Terharu, sedih,
Bangga dan tentu saja berlinang ari mata. Begitu kesan setelah menonton
film ‘Letters To God’. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata
perjuangan anak penderita Kanker, Tyler.
Dari
situlah ia bangkit, dengan menggunakan sepeda, ia membagikan surat
Tyler kepada orang-orang yang disebutkan dalam surat Tyler kepada Tuhan.
Luar
biasa, inspirasi Tyler diikuti oleh para penderita kanker di Georgia
untuk selalu bersahabat dengan Tuhan. Dan tidak sedikit penderita kanker
yang dapat hidup lebih lama lagi bahkan bisa berkarir saat vonis kanker
menimpa penderita kanker saat usianya masih sangat kecil.


Tyler merupakan
satu anak dari puluhan, ratusan dan barangkali ribuan penderita kanker.
Kehidupan Tyler mampu menginspirasi banyak orang, tidak hanya penderita
kanker sendiri namun juga orang-orang sehat di sekelilingnya. Inilah
barangkali yang mendorong kisah nyata ini diangkat ke dalam film layar
lebar.
Film ini
mengisahkan Tyler, seorang penderita kanker, seorang anak yang berasal
dari keluarga yang telah ditinggalkan oleh sang ayah. Tyler memiliki
seorang Kakak Ben, Ibu, seorang Nenek, Samantha dan Alex teman
sekolahnya yang sangat sayang padanya.
Semenjak tahu
bahwa dirinya mengidap penyakit mematikan, selain keluarganya yang
selalu memperhatikan dirinya ia juga membangun persahabatan dengan
Tuhan. Baginya Tuhan adalah sahabat pena yang bisa diajak untuk berbagi.
Setiap ia punya masalah, setiap ia bahagia, setiap ia memiliki cerita
baru dalam hidupnya, ia berbagi dengan sahabat tersebut, ia lah Tuhan.
Setiap hari tak
kurang dari 3-5 surat yang kirimkan kepada Sang Sahabat, lalu kemana
Tyler mengirimnya? Tak lain ia simpan di pos surat. Sekian kali surat
itu diterima oleh seorang mailman, sang mailman kebingungan dan mengadu kepada atasannya. Karena tidak bisa menyelesaikan masalahnya itu sang mailman pun resign. Mailman baru pun datang, ia Brady yang sedang prustasi karena urusan pengasuhan anaknya, hidupnya tak teratur.
Ketika pertama kali menerima surat dari
Tyler, Brady menyimpan surat itu di sakunya, karena tidak mungkin untuk
mengirimkannya kepada Tuhan. Karena merasa bahwa tempat ber’semayam’
Tuhan adalah Gereja, maka ia pergi ke Gereja untuk mengirimkan surat
tersebut. Kepergok oleh Pendeta ketika menyimpan surat, akhirnya ia
curhat. Dan Surat tersebut akhirnya ia bawa ke rumahnya.
Di rumah ia membuka surat lain yang ditujukan
kepadanya, ia membuka surat tersebut dan ternyata ia diminta segera
untuk mengurus surat-surat pengasuhan anaknya untuk mantan isterinya. Ia
prustasi dan tertekan. Di tengah ketertekanan itu ia mengambil satu
botol minuman keras, namun ia membantingkannya. Ia lalu membuka satu
surat, dua surat, tiga surat dan puluhan surat Tyler yang ia bawa ke
rumah.
Setelah membaca surat tersebut ia
tersadarkan, mengapa dirinya yang telah dewasa bisa begitu rapuh, ia
masih sehat dan perkasa, sementara Tyler, anak kecil penderita kanker
begitu kuat dan tegar menghadapi kematiannya sekalipun.
Salah satu surat yang ia baca,” Ya Tuhan, aku beruntung hari ini, tapi Sam benar-benar ingin memanjat pohon. Aku sudah muntah tiga kali pagi ini sekalipun. Sam akan membutuhkan seorang teman Anda tahu. seseorang yang suka memanjat pohon. Kakeknya adalah sangat menyenangkan, tapi saya pikir dia bisa memanjat pohon”.
“Ia mengajarkan begitu berartinya harapan dalam hidupku. Anak kecil yang mengajarkan pentingnya bersahabat dengan Tuhan”, celoteh Brady.
Orang-orang pun begitu terharu, saat pesta
kesembuhan (sementara) yang kesekian kalinya Tyler mengundang
orang-orang yang senasib serta orang-orang yang berada disekelilingnya
untuk berbagi cerita bersama. Disitulah moment Brady sang mailman
untuk menyampaikan kepada tamu undangan bahwa kekuatan dan persahabatan
dengan Tuhan telah memberikan inpsirasi baginya untuk hidup lebih tabah
lagi, begitupun dengan orang-orang yang senasib dengan Tyler, dengan
apa Tyler kuat dan tabah? Tidak lain adalah karena bersahabat dengan
Tuhan. Brady pun menunjukan 3 karung surat yang telah Tyler tulis dan
dikirimkan kepada Tuhan yang ia simpan baik-baik di kantor pos tempatnya
bekerja.
Kebiasaan Tyler untuk selalu berbagi cerita
dengan Tuhan yang dianggapnya sebagai sahabat, guru dan teman
menginspirasi banyak penderita kanker lainnya, hingga akhirnya setelah
Tyler meninggal keluarganya yang dibantu Samantha, membuat Boxmail yang
superbesar dan mengundang para penderita kanker agar bisa melakukan hal
serupa yaitu selalu bersahabat dengan Tuhan agar bisa kuat dan tabah
dalam menghadapi penyakitnya.
Film yang diangkat dari kisah nyata tersebut
memberikan pesan bahwa Tuhan sebagai kekuatan yang maha dahsyat dapat
mematahkan vonis mati dokter terhadap keganasan kanker. Tyler yang
divonis mati bisa hidup beberapa tahun lebih lama dari vonis yang
diberikan dokter. “Bahkan saya pun tidak yakin jika ia akan sembuh setelah ini,”
ujar dokter, saat kanker Tyler mengganas dan harus diopname beberapa
hari, tapi ternyata Tyler malah sembuh walaupun pada akhirnya ia
meninggal juga.
Brady yang telah putus asa atas masalahnya
merasa beruntung mengenal keluarga Tyler, ia telah menginspirasinya
untuk mencoba berhubungan dengan Tuhan dan memulainya mengunjungi Gereja.
Di akhir cerita, film ini mengisahkan beberap
penderita Kanker yang bisa selamat dari penyakit mematikan setelah ia
secara konsisten terus memupuk persahabatan dengan Tuhan.
Sumber: http://hiburan.kompasiana.com/film/2011/01/03/letters-to-god-keajaiban-bersahabat-dengan-tuhan-330243.html